JATIMPEDIA, Jakarta - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Nurul Ichwan menegaskan, hilirisasi mineral merupakan strategi utama Indonesia dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.
Langkah ini juga untuk mempercepat transformasi menuju pembangunan berkelanjutan.
Baca juga: Kuartal II-2026, Investasi Hilirisasi Bauksit Naik 193 Persen
Ia menekankan bahwa pengembangan industri hilir harus selaras dengan regulasi internasional. Termasuk EU Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) serta kebijakan environmental and human-rights due diligence.
“Agar industri nasional mampu bersaing di pasar global,” ungkap Nurul dalam keterangannya, Sabtu (11/10).
Nurul menjelaskan, pemerintah menargetkan investasi sebesar lebih dari Rp 3.800 triliun dalam lima tahun ke depan untuk pengembangan industri hilir dari 15 komoditas prioritas, termasuk nikel, tembaga, bauksit, dan baja.
Baca juga: Pemerintah Target Realisasi Investasi 2027 Naik Jadi Rp2.322 Triliun
“Hilirisasi bukan hanya tentang industrialisasi, tetapi tentang menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan, mendukung transisi energi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” lanjutnya.
Nurul menambahkan, mineral kritis kini menjadi aset strategis dalam diplomasi ekonomi internasional. Dimana kebijakan nasional harus mampu menjembatani kepentingan negara kaya sumber daya dengan negara pemilik teknologi dan modal.
Baca juga: Triwulan I-2026, BKPM Catat realisasi Investasi Rp498,8 Triliun
“Pemerintah juga mendorong agar proses hilirisasi berjalan seiring dengan penerapan prinsip good mining practices dan pemanfaatan energi bersih untuk memastikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Melalui hilirisasi mineral yang berorientasi hijau, pemerintah menargetkan terciptanya pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dengan laju hingga delapan persen.
Editor : Eka Sapto