Tiga Hari Jamaah Haji Tinggal di Tenda Mina Untuk Lempar Jumrah

JATIMPEDIA, Makkah – Fase puncak haji 2024 di Arafah dan Muzdalifah sudah berlangsung. Mini aktivitas jemaah haji terpusat di kawasan Mina untuk mabit (menginap). Selama di Mina, jemaah akan melontar jumrah Aqabah pada 10 zulhijjah, dilanjutkan jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari-hari tasyrik.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bersyukur penyelenggaraan wukuf di Arafah berjalan baik dan lancar. Demikian juga dengan fase Mabit di Muzdalifah. Pemberangkatan seluruh jemaah ke Mina selesai pada 07.37 Waktu Arab Saudi (WAS), sebelum terik matahari.

“Sukses penyelenggaraan puncak haji di Arafah dan Muzdalifah patut kita syukuri. Alhamdulillah, mobilisasi jemaah berjalan lancar. Kejadian tahun lalu tidak terulang. Apresiasi patut disampaikan kepada seluruh petugas dan jemaah haji Indonesia,” kata Yaqut di Mekkah seperti dikutip dalam keterangan resmi Kementerian Agama pada Ahad, 16 Juni 2024.

Baca Juga  Arab Saudi Umumkan Tahapan Haji Armuzna Mulai 14 Juni

Memasuki fase Mina, Menteri Yaqut mengingatkan bahwa kondisinya jauh lebih berat dibanding di Arafah dan Muzdalifah. Sebab, jemaah akan tinggal lebih lama di tenda Mina. Selain itu, jika di Arafah dan Muzdalifah jemaah relatif hanya berdiam di tenda. Adapun di Mina ada aktivitas lontar jumrah.

“Mina harus dipersiapkan dengan jauh lebih baik. Saya mengimbau jemaah untuk tidak memaksakan diri melontar jumrah. Petugas harus siaga membantu para jemaah, termasuk secara cuma-cuma siap membadalkan lontar jumrah mereka, khususnya mereka yang lansia, risti (berisiko tinggi), dan disabilitas,” kata Yaqut.

Menteri Yaqut menegaskan, secara fikih, mereka yang tidak mampu bisa dibadalkan saat melontar jumrah. “Secara khusus, saya minta para petugas harus siap jika diminta melakukannya,” ujarnya

Baca Juga  Gubernur Khofifah: Keris Desa Aeng Tong Tong Jawa Timur Juga Jadi Suvenir Side Event G2

Menteri meminta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi untuk menerapkan skema perlindungan, pelayanan, dan pembinaan dengan menyesuaikan kondisi fisik jemaah agar mereka tidak memaksakan. Gus Men, panggilan akrabnya, meminta PPIH untuk segera mengidentifikasi jemaah yang harus dibadalkan.

“Jemaah yang secara fisik tidak memungkinkan, saya minta lontar jumrahnya dibadalkan. Intinya kami tidak mau jemaah memaksakan kondisi fisiknya. Tidak ada pungutan apa pun atas badal lontar jumrah oleh petugas,” kata Yaqut. (cin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *