Pasar Kakao Jatim Terbuka, Petani Didorong Tingkatkan Produksi

Surabaya, JP – Petani kakao di Jawa Timur diminta untuk meningkatkan proruktivitas tanamannya sejalan dengan potensi pasar yang besar. Keberadaan dua industri kakao di Gresik, Cargill Cocoa and Chocolate dan Jebe Koko selama ini belum bisa dipenuhi kebutuhan kakao dari dalam negeri.

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur,  Isdarmawan Asrikan mengatakan, komoditas kakao memiliki potensi pasar yang sangat besar. Hanya saja, kemampuan di sektor hulu masih belum dapat memenuhi kebutuhan pasar.

“Selama ini pabrikan kakao di Jatim lebih banyak mengimpor kakao dari Afrika dan Indonesia Timur akibat minimnya pasokan dari Jawa. Padahal potensi lahan kakao rakyat di Jatim luas, tapi selama ini belum optimal,” katanya seperti dikutip Bisnis.

Baca Juga  Pameran Investasi Industri Dan UMKM Gresik 2023, Promosikan Gresik Lewat Bidang Investasi Dan UMKM

Dijelaskan, dua perusahaan besar yang merelokasi pabrik Malaysia ke Gresik yakni PT Cargill Indonesia dan PT JeBe Koko kebutuhan kakaonya mencapai ribuan ton per bulan. “Ini sebenernya jadi potensi besar bagi petani kakao untuk memasok industri-industri dengan jumlah besar,” katanya.

Sejak 2016 GPEI telah mengembangkan program Sustainability Cacao Development Programme (SCDP) yang bekerja sama dengan Uni Eropa. Progam itu dilakukan melalui demplot tanaman kakao dengan bibit/varietas MMC 02 dan Sulawesi 01 di lima daerah, di antaranya Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Bondowoso, Trenggalek dan Pacitan dengan luasan total 10 ha per kabupaten.

Setiap demplot lahan petani mendapatkan bantuan bibit, pendampingan, budi daya, perawatan dan bimbingan pascapanen.

Baca Juga  Cargill dan Pemdes Manyar Komitmen Kelola Sampah Sebelum Dibuang

“Demplot ini dilakukan untuk memberikan contoh hasil tanaman kakao yang betul-betul dirawat dan dikembangkan, dengan harapan akan ditiru petani lain, termasuk perlunya dibentuk manajemen/organisasi seperti kelompok tani atau koperasi,” katanya.

Dia menjelaskan produktivitas tanaman kakao di Jatim ini masih cukup rendah yakni rerata hanya sekitar 600 kg/ha, tetapi di beberapa sentra sudah bisa mencapai 1,2 ton/ha. “Tentunya untuk memacu produktivitas dan mendorong minat petani untuk membudidayakan kakao ini juga butuh peran pemerintah. Sedangkan kami di GPEI siap memfasilitasi jika membutuhkan akses ke pasar yang terbuka luas,” imbuhnya.

Wahyu, salah satu petani binaan GPEI Jatim di Desa Sukodono, Dampit, Kabupaten Malang mengatakan, ia kini telah memanfaatkan lahan pribadinya seluas 3.000 m2 untuk 360 pohon kakao melalui progam SCDP. Dengan menggunakan bibit pemberian GPEI, tanaman kakao Wahyu memiliki produktivitas 1,2 ton/ha atau mampu menghasilkan biji kakao kering sebanyak 300 kg dari panen perdana di lahan 3.000 m2. (sat/bis)

Baca Juga  UNESCO Sebut Dossier Reog Ponorogo Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Sudah Lengkap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *