Media Massa Berperan dalam Hadapi Krisis Global di Sektor Hulu Migas

Surabaya, JP – Krisis geopolitik di Eropa akibat perang Ukraina dan Rusia berimbas ke sejumlah sektor di dalam negeri. Salah satu dampak krisis Eropa itu adalah upaya meningkatkan kinerja industri hulu minyak dan gas dalam negeri.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, krisis geopolitik di Eropa ini yang memicu sanksi dari Uni Eropa dan AS terhadap Rusia. Akibatnya faktor fundamental supply – demand menjadi terganggu.

Gangguan itu, kata Komaidi, menjadikan OPEC berupaya untuk mengendalikan produksi untuk  menyeimbangkan permintaan dan harga minyak dunia. Namun potensi resesin global yang berpotensi menurunkan tingkat permintaan global. Bank Sentral beberapa negara yang akan menaikkan suku bunga berpotensi menyebabkan perlambatan ekonomi global.

“Pada saat yang sama banyak potensi migas di Indonesia yang perlu mendapat perhatian. Terhitung sejak akhir 2021, terdapat 128 basin, 68 di antaranya un-drilled atau belum dibor. Cadangan produksi lapangan migas di Indonesia tercatat 2.44 BBO and 43.6 TCF, berdasarkan data 19 Januari 2021,”ujar Komaidi saat berbicara di depan sejumlah pimpinan redaksi media dalam kegiatan yang digelar Petronas di Surabaya,  Rabu (9/11).

Baca Juga  Pertamina Patra Niaga Terus Tertibkan Operasional SPBE

Dikatakan, sekitar 70 persen wilayah kerja migas produksi telah mengalami penurunan produksi alamiah. Sementara biaya produksi dan pemeliharaan mature fields terus meningkat sejalan dengan penurunan kemampuan produksinya.

Riset Inter-American Development Bank (IDB)  2020 menemukan bahwa pemberian insentif  untuk mature fields dapat menambah umur  keekonomian proyek rata-rata 30 tahun. Saat ini sekitar 52 persen atau 40 WK migas produksi merupakan mature fields. Sebanyak 36 WK berumur 25-50 tahun dan 4 WK berumur lebih dari 50 tahun.

“Perbaikan fiskal dan  insentif masih diperlukan untuk  meningkatkan investasi  migas ke depan dalam  mencapai target 1 Juta BOPD Minyak dan  12 BCFD Gas di tahun  2030,” kata Komaidi. Namun ternyata iklim investasi migas di Indonesia dianggap kurang menarik.

Indeks Kemudahan Melakukan Bisnis 2020 yang dirilis World Bank menempatkan Indonesia di peringkat 73 dari 190 negara, dan Malaysia di peringkat 12, Meksiko 60, Brazil 124, Nigeria 132, dan Venezuela 188. Survei Fraser Institute Global Petroleum 2018 menempatkan Indonesia di 10 jurisdiksi yang paling tidak menarik untuk investasi, yakni peringkat ke 71 dari 80 jurisdiksi, di bawah Nigeria.

Baca Juga  SKK Migas Alokasikan 20 MMSCFD Untuk PLN Batam

Dalam kondisi seperti ini peran pers menjadi sangat krusial. Media massa berperan penting memberikan citra positif terhadap industri migas Indonesia. Media massa bisa dikatakan jendela atau etalase informasi bagi dunia untuk melihat bagaimana industri migas berjalan selama ini.

Di tempat yang sama President Director Petronas Indonesia, Yuzaini Md Yusof menilai, pentingnya peran media dalam menyukseskan target produksi migas. Selama ini Petronas sudah memperoleh manfaat dari relasi kerja sama yang baik dengan media massa.

Terdapat sekitar 50 topik pemberitaan mengenai kegiatan Petronas di Indonesia dalam kurun waktu dua tahun terakhir.  “Pada tahun ini, terdapat beberapa pencapaian bisnis Petronas Indonesia yang diliput oleh media baik dalam skala nasional maupun lokal,” kata Yusof.

Salah satunya adalah peresmian produksi pertama dari proyek Bukit Tua Fase-2B dan penandatanganan Kontrak Kerja Sama untuk Wilayah Kerja North Ketapang pada Juni 2022. “Liputan positif seperti ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap pemberitaan industri hulu migas secara keseluruhan yang tentunya akan menunjang kegiatan operasi di Wilayah Kerja masing-masing pelaku industri,” kata Yusof.

Baca Juga  SKK Migas Pastikan Pasokan Gas Untuk Industri Pupuk Terpenuhi

Kepala Departemen Komunikasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (SKK Migas Jabanusa), Indra Zulkarnain juga mengatakan bahwa media massa, memiliki peran dan fungsi penting untuk mengawal industri hulu dan hilir minya dan gas bumi di Indonesia. Sinergi dengan media massa perlu diperkuat untuk menghadapi peluang dan tantangan industri migas pada masa mendatang.

SKK Migas Jabanusa mendorong semua pihak, terutama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk senantiasa menjalin hubungan mutualisme dengan media massa. “Kami butuh media agar masyarakat mengetahui kinerja kami. Masyarakat harus tahu keberhasilan KKKS adalah keberhasilan semua stakeholder dengan target 1 juta barrel per hari. Kami butuh media untuk memberitakan kami secara positif,” kata Indra.

SKK Migas Jabanusa melakukan pemantauan terhadap pemberitaan media massa setiap hari. “Alhamdulillah, berita negatif kurang dari 2 persen. Kami sangat mengucapkan terimakasih atas dukungannya media,” katanya. (eka)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *