Hingga Agustus 2022, Produksi Migas PHE 963 Ribu BOEPD

Jakarta,JP –  Produksi migas PT Pertamina Hulu Energi (PHE) hingga Agustus 2022, realisasi produksi  mencapai 963 ribu barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd) atau tumbuh 8% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 897 ribu boepd. Ini terdiri atas produksi gas 2.587 mmscfd dan produksi minyak 517 ribu bopd.

Untuk pengeboran sumur pengembangan telah dilakukan 439 sumur dan 55 sedang proses atau on going. Sedangkan kegiatan Work Over telah selesai dilakukan sebanyak 427 kegiatan dan well service telah selesai 19.361 sumur. Dari sisi eksplorasi, PHE sudah selesaikan 11 sumur dan 4 sedang berjalan atau on going.

Hermansyah Nasroen, Senior Manager External Communication and Stakeholder Relation PHE, mengatakan PHE berkomitmen untuk memberi atau membawa dengan operasi lebih green, rendah emisi dan juga efisiensi tinggi. ESG sangat krusial, terlebih di era transisi energi dan isu perubahan iklim yang gejalanya sudah mulai dirasakan.

Baca Juga  Pertagas Siapkan Dua Proyek Besar Tahun Ini

“ESG sebenarnya bukan barang baru hanya saja stigma. ESG dianggap menambah beban, butuh biaya untuk diimplementasikan,” ujar Hermansyah saat berbicara di booth PHE pada 46th IPA Convention and Exhibition, Jumat (23/9).

Bagi Pertamina, lanjut Hermansyah, ESG justru merupakan sebuah peluang baru bagi perusahaan untuk lebih banyak bermanfaat bagi masyarakat. “Kita ubah ESG yang tadinya beban menjadi investasi yang bisa kita monetisasi,” kata dia.

PHE megimplementasikan kebijakan keberlanjutan yang termasuk di dalamnya ESG, yaitu bagaimana PHE menjadi perusahaan yang berwawasan lingkungan, bertanggung jawab sosial serta memiliki tata kelola yang baik. Menurut Hermansyah, komitmen manajemen terhadap ESG sudah diakui oleh dunia internasional. Apalagi PHE sukses masuk di 30 besar perusahaan dunia yang dianggap concern dan mampu menerapkan ESG dengan baik. “Kami baru selesai dapatkan ESG rating kita ranking 23 dari 243 oil and gas company. Ini ESG rating pertama PHE,” kata dia.

Baca Juga  Pertamina Peduli Bantu Korban Erupsi Semeru

Dekarbonisasi

Hermansyah menegaskan, ESG tidak bisa dipisahkan dari dekarbonisasi. PHE mempunyai strategi khusus dalam mengupayakan dekarbonisasi. Pertama adalah energy demand dan eficiency, gas recovery, dan integrasi aset. Selain itu, mengembangkan pembangkit listrik rendah emisi seperti memanfaatkan solar panel, memanfaatkan bahan bakar ramah lingkungan seperti gas dan biodiesel, pengembangan penerapan teknologi carbon capture storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) serta melakukan penghijauan melalui penanaman tanaman yang mampu menyerap karbon seperti mangrove.

Elvina Sagala, Manager CSR PHE, menjelaskan sebagai perusahaan energi berwawasan lingkungan, PHE menjalankan program community environmental yang bisa sekaligus juga mendukung ESG perusahaan. Salah satunya adalah meningkatkan akses energi untuk masyarakat di wilayah sekitar operasi.

Baca Juga  Usai Digoncang Gempa, Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan LPG di Bawean Lancar

Menurut Elvina, PHE mengembangkan Desa Energi Berdikari. Perusahaan memberikan edukasi masyarakat, bahwa di sekitar mereka ada potensi energi.

“Misalnya WASTECO (Waste Energy For Community) di Manggar, Balikpapan. Di sana bisa hasilkan sampah 350-400 ton per tahun, hasilkan gas metan tinggi ini potensi untuk bisa jadi enegi gas, untuk penerangan. Ini desa berdikari Pertamina turut ambil bagian,” jelas Elvina.

Menurut dia, program tersebut dia tidak hanya memberikan dampak ekonomi tapi juga ke bermanfaat bagi lingkungan. Untuk UMKM di Manggardan masyarakat bisa berhemat dari sebelumnya menggunakan gas LPG 3kg bersubsidi sekarang energi gas sendiri. “Masyarakat bisa mandiri,” ujar dia. (raf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *