Cargill Resmikan Pabrik Pengolahan Jagung Rp 1,3 Triliun di Pandaan

Pasuruan, JP – Cargill meresmikan pabrik pengolahan jagung basah (corn wet mill) dengan investasi senilai US$ 100 juta atau Rp 1,3 triliun di Pasuruan, Jawa Timur, guna memenuhi permintaan akan kebutuhan pati, pemanis, dan bahan pakan yang terus meningkat di pasar Asia dan Indonesia.

“Fasilitas Cargill yang baru ini memungkinkan kami untuk membeli jagung dan mengubahnya menjadi pati dan pemanis berbahan dasar jagung, sehingga kami dapat memenuhi kebutuhan pelanggan baik di pasar Indonesia maupun internasional,” kata Managing Director Cargill Starches, Sweeteners, and Texturizers Asia Ming Peng saat peresmian pabrik pengolahan jagung basah di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (8/9).

Ming Peng mengatakan dengan pabrik baru ini, pihaknya dapat lebih mendukung tujuan pemerintah dalam menumbuhkan industri makanan dan minuman Indonesia dengan meningkatkan kapasitas serta daya saing di pasar internasional.

“Kami berterima kasih atas dukungan kuat dari pemerintah di semua tingkatan dengan proyek yang menyediakan empat mesin berkapasitas 3.500 kilogram ini,” katanya.

Baca Juga  Upaya Cargill Gresik Minimalisir Limbah Organik dengan Edukasi Karyawan dan Masyarakat

Lebih lanjut Ming Peng menjelaskan, pabrik yang dibangun saat pandemi ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perekonomian lokal dengan menciptakan hingga 4.000 lapangan kerja baru serta membantu perkembangan industri makanan dan minuman Indonesia.

“Prospek pertumbuhan industri makanan dan minuman di Indonesia diperkirakan sebesar 7% pasca era Covid-19. Hal ini menghasilkan peningkatan dalam permintaan tepung jagung, yang seringkali harus impor dari pasar internasional. Corn wet mill Cargill di Pandaan ini akan menghasilkan bahan-bahan yang sangat dibutuhkan untuk industri ini. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah Indonesia untuk substitusi impor sekaligus meningkatkan ekspor produk bernilai tambah,” jelasnya.

Dia juga menyebutkan, produsen pemanis di Indonesia menggunakan tepung jagung untuk membuat beberapa produk bahan makanan dengan nilai tambah tinggi, seperti glukosa, sorbitol, dan maltodekstrin, yang telah diekspor ke lebih dari 40 negara di Asia dan Afrika, seperti Jepang, Filipina, India, Afrika Selatan, Australia, Vietnam, Mesir, dan negara lainnya.

Baca Juga  Petrokimia Gresik Terima Penghargaan Industri Hijau Terbaik dari Kemenperin

Pabrik jagung basah baru ini, kata dia, telah mengadopsi teknologi canggih, dengan penerapan industri 4.0, dan untuk mengoptimalkan otomatisasi, seluruh proses dari pabrik hingga pengemasan menggunakan sistem robotika. Fasilitas baru ini juga telah menerapkan standar tertinggi dalam pengelolaan limbah dan konservasi air, mengurangi konsumsi listrik dan air, serta memaksimalkan efektivitas pemurnian air limbah.

Selain itu, untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, fasilitas Pandaan juga telah menetapkan model pengelolaan ekosistem melalui program rehabilitasi lahan dengan menanam lebih dari 60.000 pohon.

Pembangunan pabrik ini sudah dimulai sejak tahun 2020, dan pada pelaksanaannya Cargill menerapkan protokol keselamatan dan kesehatan yang sangat ketat, termasuk protokol pencegahan Covid-19.

“Tidak ada kecelakaan yang terjadi selama tahap konstruksi, dengan total lebih dari 4,7 juta jam kerja yang tercatat aman,” tambah Ming Peng.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud yang mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

Baca Juga  Smelter Freeport di Gresik Bakal Jadi Industri Smelter Terbesar di Dunia

mengatakan, industri mamin di Indonesia, pada triwulan-I 2022, menyumbang 37,77% dari PDB industri non-migas.

“Investasi yang dilakukan Cargill ini diharapkan dapat memperkaya daya saing industri makanan dan minuman, dan tentunya meningkatkan pengolahan pati serta pemanis dalam negeri. Pemerintah juga menjamin ketersediaan bahan baku baik dari pasar domestik maupun global agar investasi semacam ini terus berkembang dan memungkinkan Indonesia bersaing di pasar global,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyampaikan pihaknya telah memberikan beberapa dukungan kebijakan untuk industri pati jagung ini.

“Di antaranya untuk memberikan potongan bea masuk bagi produk mesin produksi yang harus impor, kemudian impor bahan baku, serta menjamin ketersediaan bahan bakar tertentu untuk industri ini. Yaitu gas bumi,” pungkas Putu. (eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *