Cargill Gresik Ajak Relawan Aksi Cegah Stunting

JATIMPEDIA, Gresik – Dalam rangka memperingati Hari Sukarelawan Internasional 2023, PT. Cargill Indonesia di Gresik menggelar aksi kolektif pemberian makanan tambahan yang bergizi untuk ibu hamil dan menyusui anak kelompok bermain dan TK.

Pemberian makanan tambahan ini difokuskan di 4 titik wilayah 3 desa di Kecamatan Manyar. Di antaranya Posyandu Desa Manyarejo, Manyarsidomukti, Manyarsidorukun dan TK Istiqlaliyah Manyar.

Peringatan tahunan ini sebagai bentuk apresiasi Cargill kepada tindak kemanusiaan dalam bentuk sukarelawan dengan mengusung tema “the power of collective action: if everyone did” yang artinya “kekuatan aksi kolektif: jika semua orang melakukannya”.

Bersama 50 sukarelawan yang terdiri dari karyawan Cargill, laskar cegah stunting, orang tua murid, kader posyandu dan kader PKK memberikan 500 makanan tambahan yang bergizi serta penyuluhan kesehatan
kepada kelompok ibu menyusui dan ibu yang memiliki anak balita secara bersamaan di 4 lokasi yang berbeda.

Baca Juga  Cuaca Panas, Jemaah Haji Blitar Tetap Sehat Jalani Ibadah

Aksi kolektif yang dilakukan di peringatan hari sukarelawan international ini juga bertujuan turut berkontribusi dalam upaya preventif dan promotif penanganan stunting di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

Adi Suprayitno Admin & Relations Manager PT. Cargill Indonesia mengungkapkan, “Aksi kolektif di Hari Sukarelawan Internasional ini merupakan bagian dari program CSR pencegahan dan penanganan stunting
PT. Cargill Indonesia yang telah dijalankan sejak 2022 untuk menurunkan angka pravelensi stunting dan menyiapkan generasi berikutnya yang unggul, sehat dan cerdas.

Finkaruli Melinda Ketua Tim Penggerak
PKK Desa Manyarejo juga menyatakan, melalui program Cargill ini kita telah dilatih dan diberi banyak pengetahuan dan berharap kedepannya kami terus bisa didampingi.

Baca Juga  Pemkab Gresik Pastikan Tidak Ada Kelangkaan LPG 3 Kg

“WHO mendefinisikan stunting sebagai gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai,” kata Finkarulli.

Dikatakan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh anak pada usia 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau lazim pada anak usia
balita, yang disebabkan kekurangan gizi kronis, juga infeksi pada masa hamil yang mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janinnya.

Menurut World Health Organization (WHO), masalah kesehatan suatu bangsa dapat dianggap “buruk” jika angka prevalensi dari stunting lebih dari 20%.

Angka prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4% (data: SGGI, 2021). Sedangkan di Jawa Timur sendiri, masih di atas angka rata-rata nasional yakni 24,5% pada 2021 lalu.

Baca Juga  Wabup Gresik Salurkan BLT Inklusi Dan El Nino di Kecamatan Dukun

Pada konteks tujuan pembangunan berkelanjutan, stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke 2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan.

Penanganan Stunting juga mandat dari pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021, tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Stunting merupakan masalah nasional dan menjadi Program Prioritas Nasional sebagaimana yang tercantum di dalam RPJMN, dengan target pencapaian 14% di 2024. Data Bank Dunia, 2017 menujukkan bahwa angka penurunan di negara lain seperti Peru 2,0% pertahun 2005-2015, Vietnam 0,8% per tahun
2000-2015 sebagai pembanding.  (cin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *