BPS : Cadangan Beras Nasional Capai 9,7 Juta Ton

Jakarta, JP – Badan Pusat Statistik mencatat cadangan beras nasional mencapai 9,71 juta ton. Beras sebanyak itu sangat mencukupi untuk kebutuhan masyarakat Indonesia.

Deputi Bidang Statistik dan Produksi BPS Habibullah mengatakan, stok beras pada bulan Juni 2022 sebagian besar berada di institusi rumah tangga yang mencapai 6,6 juta ton, kemudian di pedagang 1,04 juta ton, BULOG 1,11 juta ton, penggilingan 0,69 juta ton dan di Horeka maupun industri sebesar 0,28 juta ton.

“Secara umum, rata-rata stok beras di seluruh institusi cenderung mengalami peningkatan pada periode 30 April 2022 dibandingkan periode 31 Maret 2022,” jelasnya

Dia memastikan data terakhir stok beras nasional yang disurvei Kementerian Pertanian (Kementan) dan BPS merupakan data valid yang sudah melalui penghitungan cepat melalui metode kerangka sample area (KSA).

Baca Juga  Gubernur Khofifah Kukuhkan Satgas PMPA Jatim

BPS, kata Habibullah, mengapresiasi upaya tersebut karena bisa menjadi modal untuk meningkatkan produksi nasional.

“Apresiasi dari kami BPS tentunya Kementerian Pertanian yang selalu berkolaborasi untuk mewujudkan data beras nasional. Proses ini tentu dalam rangka mewujudkan satu data stok beras,” ujar Habibullah saat menyampaikan hasil Survei Cadangan Beras Nasional 2022 (SCBN 2022), Senin (8/8).

Dalam prosesnya, kata dia, BPS melakukan penyusunan metodologi, kemudian pelatihan petugas lapangan, pengambilan sampel dan proses estimasi. Diharapkan, dengan proses tersebut kualitas data bisa terus dijaga demi kebijakan yang tepat sasaran.

“Salah satu latar belakang survei ini yaitu untuk mengetahui situasi ketahanan pangan, stabiliasasi pasokan dan harga pangan, baik ditingkat nasional maupun kewilayahan. Dan tujuannya untuk mengetahui kondisi dan ketersediaan cadangan beras pada tingkat nasional,” katanya.

Baca Juga  Bupati Gresik : Sektor Transportasi Jadi Penggerak Perekonomian

Habibullah mengatakan, SCBN sendiri dirancang untuk menghasilkan estimasi pada level nasional dengan total sampel sebanyak 47.817. Angka ini tersebar di 34 provinsi dan 490 kabupaten/kota.

“Jadi, kalau dibagi institusinya dari jumlah sampel tersebut ada sampel rumah tangga dan non-rumah tangga. Dari rumah tangga konsumen itu 8.100 sampel dan rumah tangga produsen 6.000 sampel. Kemudian untuk non-rumah tangga yaitu penggilingan padi 6.000 sampel, perdagangan 11.076 sampel, industri 5.600 sampel, hotel, restoran, dan catering 11.041 sampel,” katanya.(eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *