Antisipasi SKK Migas Hadapi Krisis Energi Global

Jakarta, JP – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas melakukan berbagai antisipasi dalam menghadapi ancaman krisis energi.

“Saat ini ada tiga isu seputar energi yaitu pandemi, masalah transisi energi dan konflik antar negara membuat harga minyak dan gas menjadi tinggi, untuk itu kita terus melakukan antisipasi mewujudkan ketahanan energi,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di Padang.

Dwi menyampaikan hal itu saat memberikan kuliah umum di Universitas Andalas (Unand) Padang dengan tema Strategi Membangun Ketahanan energi di Era Transisi Untuk Mendukung Pembangunan Nasional Yang Berkelanjutan dan penandatanganan nota kesepahaman.

Menurut Dwi ancaman terdepan yang dihadapi adalah ancaman krisis energi akibat konflik antar negara hingga menyebabkan harga minyak dunia naik.

Baca Juga  Khofifah Ajak Wisatawan Habiskan Libur Lebaran di Jawa Timur

“Ini merupakan momen yang menarik bagi pengambil keputusan, perusahaan dan pemerintah karena dunia sedang gonjang ganjing sehingga perlu pengambilan keputusan yang tepat,” ujarnya disadur dari bisnis.

Dia menuturkan yang terjadi di Ukraina menyebabkan peta energi kocar kacir karena ketergantungan negara di Eropa terhadap energi Rusia.

“Kita tidak pernah menduga harga minyak yang dulu anjlok sampai 20 dolar hari ini bisa di atas 120 dolar per barel,” kata dia.

Oleh sebab itu, dia mengungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencoba mengambil langkah agar persoalan ini bisa diatasi. Selain itu, Indonesia juga tengah berupaya melakukan transisi energi untuk mewujudkan nol emisi pada 2026.

Baca Juga  PGN Pacu Pemenuhan Gas Bumi dengan Moda Pipa dan Non Pipa di Wilayah Batam

“Konsekuensinya ada tambahan biaya bagi sektor industri yang masih menghasilkan CO2,” ujarnya.

Untuk itu SKK Migas menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi termasuk Unand untuk mewujudkan target nol emisi. Selanjutnya, langkah yang perlu diambil adalah upaya mengangkat produksi minyak dan gas untuk mengurangi defisit.

“Sekarang kita dihadapkan pada bagaimana menaikkan produksi dan mengantisipasi energi transisi,” ujarnya.

Dwi melihat peran energi baru dan terbarukan (EBT) berperan dalam menghadapi energi dan transisi dan mewujudkan kemandirian energi.

“Salah satunya adalah gas sehingga perlu dilakukan konversi dari minyak dan gas secara bertahap,” katanya. (sat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *