JATIMPEDIA, Probolinggo - Ketua Tim Penggerak PKK Kota Probolinggo Evariani Aminuddin mendorong produk olahan jagung untuk menjangkau pasar lebih luas yang disampaikan saat mengunjungi Kampung Marning di Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.
"Kampung tersebut menyimpan potensi ekonomi lokal yang terus berkembang. Produk olahan jagung berupa marning menjadi salah satu usaha masyarakat yang memiliki pasar hingga luar daerah," katanya.
Baca juga: DPRD Kabupaten Probolinggo Ajukan Raperda Perlindungan Kawasan Hutan
Ia mengatakan, pengembangan kampung tematik harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas masyarakat dan penguatan ketahanan keluarga.
Menurut dia, potensi yang sudah tumbuh di tengah masyarakat perlu dikembangkan agar mampu membuka lapangan kerja dan memberikan manfaat lebih luas.
Produksi jagung marning yang dikenal dengan nama jamudin di kampung tersebut cukup besar dan dikenal di Kota Probolinggo dan sekitarnya, sehingga pihaknya berharap pemilik usaha dapat memperluas pasar dan meningkatkan produksi dengan melibatkan masyarakat sekitar.
“Pemilik usaha bisa menjadi penggerak, sehingga masyarakat juga mendapatkan kesempatan kerja baru, apalagi sebentar lagi akan ada Koperasi Merah Putih. Usaha yang berkembang perlu didorong pemasarannya. Keterlibatan generasi muda sangat penting, terutama dalam pemasaran digital dan pengembangan strategi bisnis," ujar dia.
Ia berharap, pengembangan UMKM seperti Kampung Marning menjadi bukti nyata implementasi Probolinggo Bersolek. Tidak hanya memperindah lingkungan, program tersebut juga diarahkan untuk membangun masyarakat yang produktif, guyub, dan memiliki ketahanan ekonomi keluarga.
Baca juga: Ruas Tol Prosiwangi Gending-Paiton Mulai Berbayar, Segini Tarifnya
Sementara itu, Camat Wonoasih Eko Candra Wirawan menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki enam kelurahan dengan karakteristik dan keunikan kampung tematik yang berbeda-beda. Sebagian ada yang mengembangkan potensi industri rumahan seperti perajin tempe dan marning, pengembangan potensi lingkungan, sementara lainnya mengangkat sektor pariwisata lokal.
Senada dengan itu, Lurah Kedunggaleng Mohammad Yusup mengatakan usaha marning telah menjadi salah satu aktivitas ekonomi yang banyak ditekuni masyarakat setempat. Tercatat ada sebanyak sekitar 47 UMKM yang berkecimpung dalam usaha marning di wilayahnya.
Sementara itu, salah satu pemilik usaha, Taufiq mengatakan keluarganya membuat marning sejak tahun 2003 dan kini telah memasuki generasi kedua dan dengan menggunakan empat dandang sebagai standar produksi, ia mengolah sedikitnya 50 kilogram jagung pipil per hari.
Baca juga: Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Pemkot Probolinggo Perkuat Wisata Pesisir Pantai
“Permintaan paling banyak justru untuk marning mentah atau jagung pipil yang sudah diolah itu. Pesanannya datang dari luar kota, seperti Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Tengah, Tasikmalaya, Tangerang, hingga Cirebon juga ada," katanya.
Untuk harga, marning mentah atau jagung pipil yang telah diolah dijual sekitar Rp17.000 per kilogram. Sedangkan, marning matang dikemas dalam ukuran 250 gram dengan harga Rp12.000 hingga Rp13.000. Harga produk matang per kilogram berkisar Rp48.000 hingga Rp50.000, bergantung pada perubahan harga minyak goreng.
Dalam sebulan, Taufiq menyebut produksinya dapat mencapai sekitar satu ton dengan kebutuhan modal kurang lebih Rp8 juta untuk setiap satu ton produksi. Saat ini, usaha tersebut melibatkan empat hingga lima pekerja yang berasal dari keluarga dan warga sekitar.
Editor : Rofiq