Tembakau Berpotensi Putar Ekonomi Jombang Rp487 Miliar, Libatkan 15 Ribu Petani

Reporter : Rini
Bupati Jombang Warsubi, bersama jajarannya, saat mendatangi agenda Pembinaan dan Panen Raya Tembakau 2026 di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso

JATIMPEDIA, Jombang - Komoditas tembakau menjadi salah satu sektor pertanian yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan utara Sungai Brantas, Kabupaten Jombang. Pada 2026, nilai perputaran ekonomi dari komoditas ini diperkirakan mencapai Rp487 miliar, ditopang luas areal tanam 6.508,7 hektare dan keterlibatan sekitar 15.000 petani.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Much. Rony, menyampaikan bahwa potensi ekonomi tersebut didukung produktivitas tembakau yang mencapai 15 hingga 17 ton daun basah per hektare. Jika dihitung menggunakan asumsi harga jual terendah Rp5.000 per kilogram, komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang cukup besar bagi daerah.

Baca juga: Pemkab Pamekasan: Serapan Pembelian Tembakau Tahun Ini Capai 42.575 Ton

“Dengan luas lahan dan produktivitas yang ada, tembakau memiliki potensi ekonomi yang besar bagi Jombang. Sekitar 15.000 petani turut mengandalkan komoditas ini sebagai sumber penghidupan,” ujar Rony, Kamis (15/10/2026).

Sentra penanaman tembakau di Kabupaten Jombang tersebar di beberapa kecamatan. Kabuh, Ploso, dan Plandaan menjadi wilayah dengan areal tanam terbesar, disusul Kudu dan Ngusikan.

Selain memperkuat produksi, Kabupaten Jombang juga mengembangkan benih tembakau varietas lokal bersertifikat. Pengembangan tersebut menjadi salah satu keunggulan daerah, bahkan menarik perhatian sejumlah wilayah lain, seperti Gresik dan Blitar, untuk menjadikannya sebagai bahan pembelajaran.

Guna mendukung produktivitas dan efisiensi usaha tani, Pemerintah Kabupaten Jombang mengalokasikan dukungan sarana pertanian melalui APBD dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2026.

Baca juga: 157 Karhutla Terjadi di Jombang Sepanjang 2026, Luas Lahan Terbakar 148,6 Hektare

Bantuan yang disiapkan meliputi empat unit traktor tangan rotary, 19 unit mesin rajang tembakau, 350 ton pupuk NPK khusus tembakau, serta tiga unit kendaraan angkut roda tiga. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu petani dalam mengelola lahan, meningkatkan efisiensi pengolahan hasil panen, dan menunjang kegiatan produksi.

Di sisi lain, Bupati Jombang Warsubi menekankan pentingnya memperkuat pemasaran dan kemitraan antara petani dengan industri pengolahan. Menurutnya, potensi produksi yang besar harus diimbangi dengan akses pasar yang jelas serta harga jual yang mampu memberikan keuntungan wajar bagi petani.

“Petani perlu mendapatkan kepastian pemasaran dengan harga yang layak, sementara industri membutuhkan pasokan tembakau berkualitas secara konsisten. Kemitraan yang saling menguntungkan menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan usaha kedua pihak,” kata Warsubi.

Baca juga: MPM Honda Jatim Tambah Bank Sampah Binaan ke-5 di Jombang

Warsubi juga mendorong pengembangan tembakau agar tidak berhenti pada kegiatan budidaya, tetapi berlanjut ke sektor agribisnis dan agroindustri. Dengan pengembangan rantai usaha tersebut, nilai tambah komoditas tembakau diharapkan dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat.

Selain itu, regenerasi petani menjadi perhatian penting agar usaha pertanian tembakau tetap berkelanjutan dan mampu menarik minat generasi muda. Dukungan terhadap peningkatan kualitas produksi, akses pemasaran, serta penguatan kemitraan dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing komoditas tersebut.

Dengan luas lahan mencapai ribuan hektare dan melibatkan sekitar 15.000 petani, tembakau memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak ekonomi kawasan utara Brantas. Optimalisasi potensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Jombang.

Editor : Rofiq

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru