JATIMPEDIA, Sumenep - Suasana berbeda terlihat di Dusun Mara'an, Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura.
Masyarakat setempat berkumpul untuk menyaksikan tradisi Kerap Tangghek, sebuah pentas sapi jantan yang hingga kini masih dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Madura.
Baca juga: Target Retribusi Pasar Sumenep Rp2,9 Miliar Dibayangi Kebocoran
Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Bukan sekadar ajang menampilkan sapi jantan, Kerap Tangghek juga menjadi ruang kebersamaan warga sekaligus bentuk kecintaan terhadap warisan budaya leluhur.
Kebanggaan turut dirasakan Mahwari, salah satu peserta yang mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Baginya, kesempatan membawa sapi peliharaan dalam Kerap Tangghek merupakan sebuah kehormatan yang tidak ternilai.
“Saya merasa bangga sapi peliharaan saya diundang untuk mengikuti Kerap Tangghek. Bagi saya, ini merupakan suatu kehormatan,” ujar Mahwari.
Bagi para pemilik sapi, undangan untuk mengikuti tradisi ini menjadi kebanggaan tersendiri. Kehadiran mereka sekaligus menunjukkan bahwa kecintaan masyarakat terhadap sapi jantan dan tradisi lokal masih terjaga hingga saat ini.
Di balik terselenggaranya kegiatan tersebut, ada cerita tentang nazar dan rasa syukur. Penyelenggara Kerap Tangghek, Sahawi, mengungkapkan bahwa keinginannya menggelar tradisi tersebut berawal dari sebuah janji yang diucapkannya beberapa tahun lalu.
Saat itu, Sahawi bernazar akan menyelenggarakan Kerap Tangghek apabila kehidupan keluarganya terus membaik dan dirinya memiliki kemampuan untuk mewujudkannya.
Baca juga: DPRD dan Pemkab Sumenep Sahkan 8 Perda Baru
“Saya pernah bernazar beberapa tahun lalu. Kalau kehidupan keluarga saya terus membaik dan saya diberi kemampuan, saya akan nangghek kerap,” kata Sahawi, warga Desa Saroka.
Seiring berjalannya waktu, Sahawi akhirnya merealisasikan nazar tersebut dengan menggelar Kerap Tangghek di Dusun Mara'an. Baginya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menunaikan janji sekaligus menghadirkan kebersamaan di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar memenuhi nazar, penyelenggaraan Kerap Tangghek juga menjadi momentum untuk menjaga tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Madura. Warga dapat berkumpul, saling berinteraksi, serta mengenalkan budaya lokal kepada generasi berikutnya.
Kepala Desa Saroka, Adifaturahman, menyambut baik pelestarian tradisi tersebut. Ia berharap kegiatan yang membawa nilai positif bagi masyarakat dapat terus dipertahankan agar warisan budaya lokal tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Baca juga: 61 SPPG di Sumenep Kantongi Sertifikat Halal dari BPJH
“Budaya yang positif wajib dilestarikan. Kami berharap tradisi seperti ini tetap terjaga dan bisa diteruskan oleh generasi berikutnya,” ujar Adifaturahman.
Bagi masyarakat Desa Saroka, Kerap Tangghek bukan hanya tentang sapi jantan yang tampil dalam sebuah pentas. Tradisi ini juga menyimpan cerita tentang kebanggaan, rasa syukur, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan seperti ini, warisan budaya Madura mendapat ruang untuk terus hidup. Selama masyarakat masih memiliki kepedulian dan kemauan untuk menjaganya, Kerap Tangghek diharapkan tetap menjadi bagian dari identitas budaya lokal yang dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Editor : Rofiq