JATIMPEDIA, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik (EV) dari kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026). Momen tersebut sekaligus menandai peluncuran 11 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa ekspor baterai EV ini menjadi contoh nyata produk hilir yang selama ini didorong pemerintah.
Baca juga: Toyota Kaji Kesiapan TKDN Mobil Listrik 60 Persen pada 2027
“Baterai kendaraan listrik yang kini diekspor menjadi contoh produk hilir,” kata Bahlil dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Empat Proyek Komersial, Tujuh Proyek Baru
Dari 11 proyek yang diluncurkan, empat proyek telah memasuki tahap komersial dan ekspor dengan nilai investasi 3,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun. Keempat proyek tersebut meliputi PT Blue Sparking Energy yang memproduksi material baterai berbasis nikel dengan kapasitas 67.000 ton MHP per tahun, PT REPT Battero Indonesia dengan kapasitas sel baterai EV 8 GWh per tahun, PT Pioneer Aluminium Industries dengan kapasitas aluminium elektrolitik 300.000 ton per tahun, serta PT XCMG Indonesia Manufacturing yang memproduksi alat berat berbasis listrik dengan kapasitas 700 unit per tahun.
Sementara itu, tujuh proyek baru memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking) dengan nilai 6,8 miliar dolar AS. Proyek-proyek tersebut mencakup PT Guang Ching Nickel Cobalt untuk material baterai, PT Inno Prima Material untuk separator baterai, PT Tinci Materials Indonesia untuk elektrolit baterai, PT Weda Bay Aluminium dan PT Bintang Karya Aluminium untuk industri aluminium elektrolitik, PT Foton Guangqing Motor Indonesia untuk truk listrik, serta PT Flatsolar Energy Indonesia untuk produksi kaca fotovoltaik.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa hilirisasi yang dijalankan merupakan bagian dari pembangunan bangsa yang membutuhkan perjalanan panjang.
“Hilirisasi yang kita jalankan hari ini adalah bagian dari pembangunan bangsa (nation building) yang membutuhkan perjalanan panjang. Ekspor perdana baterai listrik ini menjadi bukti nyata bahwa arah kebijakan hilirisasi nasional sudah berada di jalur yang benar,” tegas Presiden dalam sambutannya.
Baca juga: Kemenperin Pacu Ekspor Industri Makanan dan Minuman, Target US$83,08 Miliar pada 2029
Dampak Ekonomi dan Serapan Tenaga Kerja
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa pengembangan IWIP menunjukkan bagaimana kebijakan hilirisasi dapat diwujudkan melalui pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi.
“Kita akan menjadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik dan tentunya hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi. Dengan proyek-proyek yang baru ini akan menyebabkan kita mempunyai the whole ecosystem of EV battery sampai dengan daur ulang baterainya,” ujar Rosan.
Seluruh proyek yang diluncurkan diproyeksikan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja baru, menambah 117.000 tenaga kerja yang telah terserap di kawasan IWIP. Sejak pengembangan kawasan dimulai pada 2018, total investasi yang masuk telah mencapai sekitar 20 miliar dolar AS dan diproyeksikan bertambah sekitar 7 miliar dolar AS seiring masuknya proyek-proyek baru.
Baca juga: Pabrik BYD di Subang Siap Diresmikan 3 September 2026, Investasi Capai Rp11,7 Triliun
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya pengelolaan limbah dan keberlanjutan lingkungan di sekitar wilayah operasional industri.
“Perhatikan pengelolaan limbah dengan baik, masa depan kita, kita hadapi dengan baik, dengan penuh rasa tanggung jawab untuk anak dan cucu kita,” ujarnya.
Editor : Taufiq