Petrokimia Gresik Bikin Gen Z Melirik Pertanian, Siswa SMK Panen 800 Kg Bawang Merah

Reporter : Aris Wahyudi
Kegiatan program School Lab Farming yang dijalankan PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan solusi agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero).

JATIMPEDIA, Gresik  - Bagi sebagian siswa SMK pertanian, lahan sekolah bukan lagi sekadar tempat praktik. Di sana, mereka belajar membaca data, merawat tanaman, menghitung kebutuhan pupuk, memantau pertumbuhan, hingga melihat sendiri bagaimana hasil panen dapat berubah menjadi peluang usaha.

Pengalaman itu dirasakan siswa SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar, melalui program School Lab Farming yang dijalankan PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan solusi agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero).

Baca juga: Petrokimia Gresik Raih Best CMO 2026 Berkat Strategi Smart Farming dan Smart Marketing

Di lahan seluas 1.000 meter persegi, para siswa membudidayakan bawang merah dengan pendekatan pertanian presisi. Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka berhasil memanen 800 kilogram bawang merah kering, lebih dari lima kali lipat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang hanya menghasilkan sekitar 150 kilogram dari luasan lahan yang sama.

Bagi siswa, angka tersebut bukan sekadar hasil panen. Di balik 800 kilogram bawang merah itu terdapat proses belajar yang membuat mereka melihat pertanian dari sudut pandang berbeda.

Mereka tidak hanya belajar menanam dan merawat tanaman. Setiap perkembangan dicatat. Kondisi media tanam diamati, kebutuhan dan dosis pemupukan dihitung, sementara hasil produksi didokumentasikan melalui matriks yang terstandar.

Dari proses sederhana tersebut, siswa belajar bahwa keputusan di lahan tidak harus hanya mengandalkan perkiraan. Tanaman dapat “berbicara” melalui data, dan data membantu mereka menentukan langkah budidaya berikutnya.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan pengalaman langsung seperti itu penting untuk membangun kembali ketertarikan generasi muda terhadap sektor pertanian.

“Melalui School Lab Farming, kami ingin menunjukkan kepada generasi muda bahwa pertanian saat ini sudah berkembang jauh. Dengan dukungan teknologi smart farming dan pengelolaan lahan sekolah sebagai teaching factory yang produktif, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami bagaimana pertanian dapat dikelola secara modern dan memiliki prospek usaha yang menjanjikan,” ujar Daconi di Gresik, Jawa Timur.

Cerita menarik juga muncul dari greenhouse sekolah. Ratusan melon berhasil dibudidayakan dengan tingkat kemanisan mencapai 15 °Brix. Di SMK Negeri 8 Jember dan SMK Muhammadiyah 5 Gresik, siswa juga membudidayakan varietas melon berbeda dengan bobot 1,2 hingga 2 kilogram per buah dan tingkat kemanisan minimal 15 °Brix.

Bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa bertani tidak selalu identik dengan cara-cara konvensional. Ada teknologi yang digunakan, ada data yang dianalisis, ada kualitas produk yang harus dijaga, dan ada nilai ekonomi yang bisa dihitung.

Baca juga: Ketika Bencana Datang, Relawan Petrokimia Gresik Hadir untuk Warga NTT

“Ketika siswa melihat sendiri bahwa lahan yang mereka kelola mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual, mereka mendapatkan perspektif baru tentang pertanian. Bukan hanya sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai bidang usaha yang membutuhkan teknologi, kemampuan analisis, dan pengelolaan bisnis,” tandas Daconi.

Sebanyak 261 siswa dari tiga SMK pertanian di Jawa Timur terlibat dalam program ini. Selain bawang merah dan melon, mereka juga mengembangkan komoditas seperti buncis dan kembang kol sebagai bagian dari rotasi tanam.

Dengan begitu, lahan sekolah perlahan berubah fungsi. Ia bukan hanya menjadi tempat siswa belajar tentang tanaman, tetapi juga menjadi semacam laboratorium terbuka tempat mereka mengenal seluruh siklus bisnis pertanian—dari merencanakan budidaya, mengelola tanaman, mencatat data, memanen, hingga memahami nilai ekonomi produk.

Kepala SMK Negeri 1 Kademangan, Hadi Sucipto, melihat pengalaman tersebut sebagai cara baru untuk mendekatkan pertanian dengan generasi muda.

“Kami sangat mengapresiasi program ini karena siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan langsung pertanian modern. Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan sektor pertanian sekaligus turut mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional,” tutupnya.

Baca juga: Petrokimia Gresik Dorong Produktivitas Petani Cabai Rawit Jatim lewat Budidaya Berbasis Teknologi

School Lab Farming merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik yang dijalankan dengan kerangka Creating Shared Value (CSV). Program ini sekaligus mendorong sekolah mengoptimalkan lahan yang dimiliki sebagai ruang praktik dan unit produksi.

Program tersebut merupakan tindak lanjut dari kompetisi HARVESTION 2025 yang mempertemukan 33 SMK pertanian dari 15 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Dari lahan sekolah yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai ruang praktik, para siswa kini mendapatkan pengalaman yang lebih jauh: melihat bagaimana sebuah benih tumbuh menjadi tanaman, tanaman menghasilkan produk, dan produk memiliki nilai ekonomi.

Di sanalah pertanian menemukan wajah barunya di mata Generasi Z—bukan sekadar soal mencangkul dan menanam, melainkan tentang teknologi, data, kreativitas, dan keberanian melihat tanah sebagai peluang masa depan.

Editor : Arif

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru