EMCL Bersama SKK Migas Jabanusa Gelar Pelatihan Olahan Makana Tagika

Reporter : Rofiq
Sebanyak 30 kader Kelompok Kerja (Pokja) Taman Gizi Keluarga (TaGiKa) dikumpulkan untuk mengolah komoditas lokal

JATIMPEDIA, Tuban - Sebanyak 30 kader Kelompok Kerja (Pokja) Taman Gizi Keluarga (TaGiKa) dikumpulkan untuk mengolah komoditas lokal seperti ikan lele, labu kuning, hingga ubi yalkon menjadi hidangan sehat bernutrisi tinggi.

‎‎Inisiatif tersebut merupakan bagian dari rangkaian Program Pengembangan TaGiKa yang diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dan Yayasan eL-SAL Indonesia. Kegiatan pelatihan dan praktik memasak ini dipusatkan di Balai Desa Sumurcinde, Kecamatan Soko.

Baca juga: SKK Migas Lakukan Survei Seismik 2D di Lamongan

‎‎Pelatihan ini melibatkan para kader Posyandu dan PKK dari Desa Simo, Sokosari, Sumurcinde, serta Nguruan di Kecamatan Soko, ditambah perwakilan dari Desa Banjaragung serta Campurejo di Kecamatan Rengel.

Di bawah arahan langsung Wakil Ketua DPD Perkumpulan Chef Profesional Indonesia Jawa Timur, Chef Haris Harianto, para peserta diajak meracik Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), menu khusus ibu hamil dan menyusui, hingga hidangan gizi seimbang harian keluarga.

‎Berbagai hasil panen pekarangan warga seperti pakcoy, terong ungu, ubi ungu, ubi yalkon, labu kuning, hingga ikan lele diolah menjadi menu lezat. Untuk kategori MP-ASI, para kader meracik bubur cha-cha, puree waluh, hingga mashed potato bertabur abon lele.

‎‎Sementara untuk menu ibu hamil dan menyusui, disajikan olahan pakcoy saus tiram, lele filet, hingga salad buah berbasis yalkon dan pepaya.

"Kunci utamanya bukan terletak pada bahan yang mahal, melainkan ketepatan memilih dan menyusun variasi pangan dari lingkungan sekitar. Bahan sederhana seperti ubi dan lele pekarangan dapat menjadi menu menarik serta memenuhi standar gizi keluarga," ujar Chef Haris.

Baca juga: Pemkab Bojonegoro Dukung Survei Seismik 2D Lamturo untuk Cari Cadangan Migas Baru

‎Perwakilan EMCL, Feni Kurnia Indiharti, menyampaikan bahwa program TaGiKa dirancang secara holistik mulai dari tahap penanaman mandiri di pekarangan hingga penyajian akhir di piring makan keluarga.

"Kami telah menyelenggarakan kegiatan ini pada 2 September lalu. Progam ini menjadi komitmen EMCL untuk mendukung penuh agenda Pemkab Tuban dalam menekan stunting dari tingkat keluarga," ujarnya, Jumat 4 September 2026.

‎‎Perwakilan Camat Soko, Novie Eka Rosaria, mengimbau agar pihak pemerintah desa dapat menyerap keterampilan para kader ini ke dalam agenda rutin di wilayah masing-masing. "Pemerintah desa perlu mengintegrasikan praktik baik TaGiKa ini ke dalam program Posyandu dan PKK desa, sehingga manfaatnya terus mengalir secara berkelanjutan," tegas Novie.

Baca juga: SKK Migas Ungkap Posisi Lapangan Hidayah, Sampang Berpeluang Dapat DBH

‎Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, menambahkan bahwa demo masak ini menjadi bukti nyata bahwa pekarangan rumah mampu dioptimalkan untuk menjaga kesehatan keluarga. "TaGiKa bukan sekadar bercocok tanam, melainkan cara mendekatkan edukasi gizi ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat," jelas Imam.

‎‎Melalui pelatihan ini, misi besar untuk menekan angka stunting hingga 10 persen di wilayah pendampingan diharapkan dapat tercapai. Hal ini turut dirasakan langsung oleh Dwi Puji Prasetyo Rini, kader Pokja TaGiKa asal Desa Sokosari, yang mengaku mendapat bekal ilmu untuk mendampingi masyarakat.

‎‎"Selama ini kami hanya memberikan imbauan secara lisan. Setelah mempraktikkan sendiri racikan bolu ubi, terong woku, hingga jus yalkon ini, kami punya contoh nyata yang bisa langsung diajarkan kepada ibu-ibu di desa," tutup Dwi Puji.

Editor : Rofiq

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru