BI Waspadai Inflasi setelah Periode Lebaran

Reporter : Fitri Handayani
Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman.

JATIMPEDIA, Jakarta  - Bank Indonesia (BI) mewaspadai kenaikan harga-harga barang atau inflasi pasca lebaran. Setidaknya ada dua pemicu inflasi di bulan Maret ini, yakni kenaikan harga minyak dan datangnya musim kemarau.

“Kami akan terus melakukan monitoring perkembangan perang Timur Tengah eskalasinya seperti apa. Ini tentunya akan mempunyai dampak kepada inflasi terutama dari jalur rantai pasokan maupun dari kenaikan harga komoditas,” kata Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman.

Baca juga: Inflasi Agustus 2026 Capai 3,19 Persen, Lebih Tinggi dari Perkiraan

 


Untuk saat ini, menurut Aida, dampak perang Timur Tengah pada perekonomian masih terkelola dengan baik. Hal lain yang akan menjadi perhatian BI adalah harga barang bergejolak (volatile food) sebagai dampaik musim kemarau.

Baca juga: QRIS Dipakai 65,77 Juta Pengguna dan Diterima 44,86 Juta Merchant

BMKG memperkirakan awal musim kemarau dimulai bulan April mendatang. “Ada keterangan dari BMKG musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan datangnya lebih awal,” ucap Aida.

Musim kemarau yang lebih kering ini berpotensi mengganggu panen. Utamanya komoditas holtikultura seperti cabai-cabaian, jagung, maupun beras.

Baca juga: Bank Indonesia Sebut Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Kisaran 4,9–5,7 Persen

Pada bulan Februari 2026 tingkat inflasinya tercatat 4,76 persen, sedikit lebih tinggi dari target sasaran 2,5±1 persen. Tingginya inflasi bulan Februari dampak dari kebijakan diskon tariff listri hingga 50 persen pada Januari dan Februari.

Diskon tarif listrik berakhir pada bulan Maret ini. “Sehingga inflasi bulan Maret secara keseluruhan diperkirakan di kisaran sasaran 2,5±1 persen,” kata Aida menutup keterangannya.

Editor : Rizky

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru